Minggu, 02 Juni 2024

Cara Optimasi Reels Instagram untuk Konten Video Storytelling

Cara Optimasi Reels Instagram untuk Konten Video Storytelling

Cara Optimasi Reels Instagram dengan Storytelling - Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mempromosikan bisnis kepada target audience. Satu di antara banyak cara tersebut adalah dengan menjalankan content marketing.

Content marketing sendiri adalah teknik pemasaran yang memanfaatkan konten-konten digital, dan terdiri dari 2 bagian besar, yakni content pillar dan juga distribusi konten. Untuk bagian kedua sendiri, kita bisa mendistribusikan konten melalui berbagai macam platform atau channel.

Kamu bisa memilih website, landing page, media sosial dan lain-lain.

Apabila kamu memilih media sosial sebagai channel marketing utama, maka Instagram bisa jadi pilihan terbaik. Mengapa?. Satu di antara banyak alasannya adalah karena Instagram memudahkan pebisnis untuk mempromosikan produk atau jasa bisnis melalui berbagai jenis konten.

Dimulai dari konten gambar atau ilustrasi di fitur feed atau story, konten real-time di fitur live, dan juga konten video di fitur Reels. Fitur yang sudah cukup lama dikembangkan oleh Instagram sejak tahun 2020 (2021 di Indonesia) untuk dapat menyaingi media sosial dari Negeri Tirai Bambu, China, yakni TikTok.

Baca Juga: Instagram Marketing vs TikTok Marketing

Melalui Reels, kita bisa mempromosikan bisnis melalui konten video yang interaktif. Adapun jenis video yang bisa disharing ini beragam, dimulai dari video kompilasi gambar dengan voice over, video teks, animasi, dan juga pastinya storytelling dengan memperlihatkan personal yang berbicara langsung.

Untuk yang terakhir ini, kita sudah melihat banyak contohnya pada content creators besar. Sebut saja;

@geraldvincentt

@medyrenaldy

@feliciaputritjiasaka

@razivb

dan lain-lain tentunya. Kita pasti setuju bahwa 4 nama di atas memiliki ciri khasnya masing-masing dan juga dengan niche kontennya masing-masing. Lalu bagaimana caranya agar kita juga bisa mengikuti jejak kesuksesan mereka?.

Baca Juga: Cara Memaksimalkan Fitur Pin Instagram

Tentu saja caranya tidak akan mudah ya, terlebih untuk yang baru memulai perjalanan konten storytellingnya. Tapi tenang saja, karena di dalam artikel ini, mimin akan membahas lengkap tentang cara optimasi Reels Instagram khusus untuk konten storytelling.

Penasaran?, simak baik-baik artikel ini ya!.

Cara Optimasi Reels Instagram untuk Konten Video Storytelling

Bagian A

Agar lebih mudah memahami proses yang ada, mimin akan membagi pembahasan ini ke dalam 3 bagian besar. Di bagian awal, kita akan mempelajari banyak hal tentang teknik-teknik fundamental storytelling.

Teknik ini berkaitan erat dengan cara kamu menuliskan brief atau skrip konten. Ya, seorang storyteller yang hebat, biasanya juga adalah penulis skrip yang hebat. Mereka bisa dengan mudah mencari topik pembahasan yang dapat menarik perhatian banyak orang.

Mereka dapat memahami struktur cerita yang baik.

Memahami Struktur Cerita

Lalu, bagaimana struktur cerita yang baik untuk naskah storytelling?. Secara garis besar, kita dapat memahami struktur cerita yang baik berdasarkan 3 bagian. 3 bagian tersebut adalah orientasi, komplikasi, dan juga resolusi.

Berikut penjelasan lengkap mengenai ketiganya.

- Orientasi: adalah bagian awal dari cerita yang memperkenalkan karakter, latar belakang dan situasi awal dari duduk permasalahan. Bagian ini dapat membantu audiens lebih mudah memahami konteks cerita, apa yang sebenarnya terjadi.

- Komplikasi: Ini bagian yang menjelaskan tentang inti dari cerita yang ingin disampaikan. Di dalamnya terdapat masalah atau konflik yang muncul. Bagian inilah yang biasanya menarik perhatian target audience hingga mau menonton video kamu sampai habis.

Tapi itu tergantung dari teknik orientasi yang kamu gunakan. Apakah di dalamnya terdapat Call to Action yang benar-benar dapat menarik target audience atau tidak. Tips jitu dari mimin, gunakan headline yang kontroversial.

Mimin sudah membuktikan ini di postingan Instagram pribadi mimin untuk konten microblog.

- Resolusi: Bagian yang menjelaskan tentang akhir dari sebuah konflik atau cerita. Bagian ini biasanya berisikan solusi, atau nilai-nilai berharga yang hendak diajarkan kepada target audience.

Kamu bisa saja mengembangkan 3 bagian ini lebih jauh dengan metode fundamental lainnya. Seperti melibatkan Pengungkapan Peristiwa dan Konflik untuk menjadi bagian tersendiri.

Jadinya akan terbentuk 5 struktur cerita, yakni;

1. Orientasi.

2. Pengungkapan Peristiwa.

3. Konflik.

4. Komplikasi.

5. Resolusi. 

Mempelajari Teknik Teknik Bercerita

Poin kedua dari bagian A ini adalah, dengan memahami teknik-teknik bercerita. Teknik-teknik bercerita yang ada di sini, berkaitan erat dengan cara kamu menggunakan apa saja untuk dapat membuat proses bercerita lebih hidup.

Tidak kaku dan juga interaktif. Teknik-teknik ini berkaitan dengan bahasa non verbal. Kamu bisa mulai mempelajari banyak teknik bercerita seperti dimulai dari;

- Mimik wajah: Ya, melalui mimik wajah kita dapat menyampaikan informasi yang ada secara lebih emosional. Penyampaian yang emosional inilah yang pada akhirnya bisa menjadikan target audience kamu tertarik untuk melihat video yang ada.

Contohnya seperti mimik wajah ketawa HAHAH yang ikonik dari @geraldvincentt di bawah ini;

Cara Membangun Ciri Khas Storytelling

Sumber: Instagram @geraldvincentt

- Kontak mata: Sama seperti mimik wajah, kontak mata juga dapat membuat audience kamu lebih fokus kepadamu, dan merasa terhubung ke dalam cerita. Kontak mata yang fokus dan tidak terkesan seperti membaca teks, akan menjadi nilai tambah untuk audiens.

Beruntungnya, sudah terdapat aplikasi berbasis AI (Artificial Intelligence) yang dapat membantu mata kita terlihat fokus ke kamera. Kita dapat melakukannya melalui aplikasi Veed IO.

Aplikasi AI untuk Konten Storytelling

Sumber: Veed.io

- Suara: Sudah jelas ini jadi bagian yang sangat memengaruhi ya. Seorang storyteller harus dapat mengatur intonasi, nada dan volume suara yang pas, sesuai dengan cerita yang disampaikan.

Ketika cerita yang kamu sampaikan mencekam atau miris, kamu bisa coba untuk pelankan suara agar audience bisa ikut merasakan perasaan mencekam yang ada. Ini jelas hanya sedikit tips saja dari mimin.

- Gerak Tubuh: Gerakan tangan, kaki, dan tubuh lainnya sangat membantu audience untuk memahami detail cerita yang kamu bagikan. Sebisa mungkin untuk menyinkronkan cerita dengan gerakan tangan yang ada.

Teknik Storytelling dalam Stand Up Comedy

Sumber: Promediateknologi.id

Di istilah Stand Up Comedy, kita biasa menyebutnya sebagai Act Out. Hanya saja kadarnya untuk konten storytelling bisa disesuaikan agar tidak terlalu berlebihan.

- Alat Peraga: Mirip dengan penjelasan sebelumnya, hanya saja benda yang digunakan untuk mempertegas pesan yang disampaikan, bukan berasal dari tubuh sendiri.

Alat peraga yang dimaksud ini beragam, bisa itu seperti mainan layaknya konten Medy, visualisasi gambar seperti konten Gerald Vincent dan Felicia, dan lain-lain. 

Bagian B

Bagian kedua, kita akan mulai membahas lebih dalam storytelling ini untuk konten Reels. Dimulai dari memahami 3 jenis storytelling yang sering digunakan content creator besar.

Memahami 3 Jenis Storytelling

Sebenarnya, ada banyak jenis storytelling yang sering digunakan oleh content creator besar. Tapi di sini mimin hanya akan menjelaskan beberapa saja dari rangkuman Dhony Firmansyah yang terinspirasi dari blog Sparkol.

Ia menjelaskan bahwa terdapat 3 jenis storytelling yang sering digunakan. 3 jenis storytelling itu adalah;

- Monomyth: Ini adalah jenis storytelling yang menceritakan tentang sebuah perjalanan, dari zero to hero. Ya, monomyth banyak digunakan untuk dapat membangun relationship marketing yang kuat dengan target audience.

Monomyth terbilang ampuh untuk ciptakan brand perception atau kepercayaan bisnis yang kuat. Terlebih lagi jika terdapat poin menyakitkan yang itu juga relate dengan banyak orang.

Semisal perjalanan Seorang Anak Tukang Kayu Bakar yang Sukses Menjadi Miliarder dan Bisa Memiliki Pajero Cash. Lider Apos. Dari orang miskin yang keberadaanya tidak diakui, menjadi diakui.

Lider Apos

Lider Apos

Tentu saja perjalanan zero to hero ini akan diwarnai dengan poin struggle yang pelik. Tapi ya jangan berlebihan juga ya..Awowowok.

- Sparklines: Jenis storytelling yang menjelaskan tentang perbedaan antara yang dulu dengan apa yang ada sekarang. Contoh sparklines yang bagus ini, bisa kamu dapatkan dari presentasi Steve Jobs saat launching iPhone 2007 silam.

Contoh lebih mudahnya, kamu bisa menceritakan tentang desain produk lama dan desain produk baru, lengkap dengan filosofi yang menyertainya.

- False Start: Hampir mirip dengan monomyth, hanya saja cerita yang disampaikan dimulai masalah atau salah dalam melangkah, yang kemudian menjadi pengalaman berharga untuknya (pencerita atau tokoh lain) meraih kesuksesan.

Teknik ini mengajarkan audience bahwa pengalaman adalah guru yang berharga. Sering digunakan oleh tenaga pengajar atau dosen berbagai Universitas terhadap MABA nya yang merasa salah jurusan.

Ampuh digunakan untuk mengubah mindset daripada audiens yang merasa sudah gagal. Metode false start digunakan juga oleh banyak motivator.  

Memahami Layout Konten

Berikutnya di dalam bagian B, adalah memahami layout konten yang pas. Khusus untuk bagian ini, kamu sudah mulai akan mempelajari tentang cara memaksimalkan grafik, tata letak wajah sang pembicara dan lain-lain.

Kamu bisa saja mencontek Devin Zone di bawah ini;

Cara Optimasi Reels Instagram untuk Storytelling

Devin Zone

Apabila kamu ingin menempatkan grafik di konten, sebisa mungkin untuk menempatkannya agar tidak terlalu mengganggu fokus audiens.

Tentu saja kamu bisa melakukan kreasi lebih jauh seperti kontennya Gerald Vincent dan juga Felicia.

Menemukan Ciri Khas Storytelling

Poin terakhir di bagian B adalah berusaha menemukan ciri khas storytelling. Poin terakhir ini, sebenarnya berkaitan erat teknik-teknik bercerita yang sebelumnya telah mimin jelaskan.

Kamu bisa mulai menemukan kosakata atau gerakan yang dapat menjadi ciri khas unik dari dirimu.

Semisal kata sapaan di bawah ini yang kamu pasti sudah tahu isiannya.

"Halo,....., di sini!".

Clue, seorang Reviewer Teknologi Ternama yang pasangannya sekilas mirip Sarah Viloid. 

Bagian C

Bagian C, atau bagian terakhir, akan lebih banyak membahas tentang cara kamu menemukan konsistensi untuk konten. Scheduling, dan proses riset yang mendalam.

Ingat, untuk jangan terpaku kepada kuantitas konten yang dihasilkan, tetapi terpakulah pada proses, ingat ya proses yang berkualitas. Proses yang berkualitas sudah pasti akan memberikan hasil yang berkualitas pula.

- Orientasi Pada Kualitas

Apakah konten pertama yang dihasilkan untuk storytelling harus langsung berkualitas?.

Tidak juga, karena jika harus, kapan kamu bisa mulai ngonten?.

Inilah penjelasan lengkap tentang cara optimasi Reels Instagram untuk konten video storytelling.

Baca Juga: Cara Riset Keyword untuk Konten SEO Web Tanpa Tools

Ingin dapatkan insight terbaru lainnya?. Silahkan ikuti terus blog ini, atau kamu bisa follow Instagram mimin di @andrimarzaakhda.

Semoga bermanfaat.

6 comments:

  1. Tentunya untuk membuat konten video reels story telling harus pintar mengolah kata disesuaikan dengan backgroundnya yang estetik juga. Terima kasih ilmunya

    BalasHapus
  2. Mantap, Mas, lengkap banget ulasannya. Bisa nih dicoba untuk bahan konten Instagram selanjutnya. Thank you for sharing.

    BalasHapus
  3. Terima kasih ulasannya yang lengkap sekali. Bisa jadi panduan bila ingin membuat reels story telling.

    BalasHapus
  4. Menarik banget nih. Secara algoritma Instagram selalu berubah-ubah kalau bisa menemukan konsep kaya gini pasti butuh pengamatan dan riset juga ya. Makasih banyak artikelnya

    BalasHapus
  5. Sejak dulu pengen banget nih buat reels Instagram dengan storytelling soalnya kalau saya lihat dengan teknik ini jadi IG jadi lebih banyak viewnya. Tapi saya masih bingung dengan caranya. Terima kasih sudah berbagi tips, akan saya coba nanti

    BalasHapus
  6. saya cukup penasaran bagaimana mengundang banyak perhatian dengan reels. Ternyata rahasianya storytelling ini, ya. Saya perlu banyak belajar terkait hal ini.

    BalasHapus